English  

كتب ميتودولوجي كريتيك ماتان هادس

اذا لم تجد ما تبحث عنه يمكنك استخدام كلمات أكثر دقة.

عرض المزيد

ميتودولوجي كريتيك ماتان هادس (كتاب)


Sepintas kritik sanad sudah cukup untuk menilai sahih tidaknya sebuah hadits, sebab periwayatan seorang periwayattsiqah dari periwayat tsiqah lainnya, yakni dari awal sampai akhir sanad, mengandung arti bahwa kita mempercayai kesahihan riwayat para periwayat tsiqah itu. Jika tidak demikian, maka penilaina tsiqah terhadap para periwayat tidak ada artinya.

Kritik sanad memang Sepintas kritik sanad sudah cukup untuk menilai sahih tidaknya sebuah hadits, sebab periwayatan seorang periwayattsiqah dari periwayat tsiqah lainnya, yakni dari awal sampai akhir sanad, mengandung arti bahwa kita mempercayai kesahihan riwayat para periwayat tsiqah itu. Jika tidak demikian, maka penilaina tsiqah terhadap para periwayat tidak ada artinya.

Kritik sanad memang cukup, tetapi bersifat elementer saja, sebab setelah dilakukan kajian terhadap periode periwayatan, dimana hadis-hadis beralih dari seorang periwayat ke periwayat lain sampai ketangan para penulis kitab hadis (Mukharrij), ada dua fenomena yang mencolok, yaitu fenomena pemalsuan hadis dan fenomena kekeliruan para periwayat. Yang pertama lahir dari kesengajaan, sedang yang kedua dari ketidak sengajaan.

Menurut hasil penelitian Al adlabi, tuduhan bahwa ulama mendahulukan kritik sanad ada benarnya, dan bahkan memiliki rasonalitas sendiri. Namun demikian dalam mempraktekkan kritik sanad, ternyata ulama hadis juga menggunakan kritik matan, yakni ketika mereka memberi penilaian terhadap seorang periwayat melalui kritik terhadap riwayat-riwayatnya. Demikian pula ketika mereka mengkaji istilah-istilah teknis (al Musthalahat). Walaupun sebagian besar istilah-istilah teknis itu terfokus pada sanad, tetapi ada sejumlah istilah teknis yang memperhatikan kritik matan, seperti pembahasan tentang hadis syadz, hadis munkar, hadis mu’allal, hadits mudltharib, hadis mudraj dan hadis maqlub.

Isu sentral yang diangkat dalam bukunya Al Adlabi ada empat kriteria dalam mempraktikkan kritik matan. Pertama, matan yang bersangkutan tidak bertentangan dengan Al qur’an. Kedua, tidak bertentangan dengan dengan hadis dan sirah Nabawiyah yang telah diterima secara luas kebenarannya. Ketiga, tidak bertentangan dengan akal, indra dan sejarah. Keempat, mirip dengan sabda kenabian. Tampaknya memang sederhana, tetapi diperlukankecermatan dan kehati-hatian dalam mempraktikkannya, agar orang tidak dengan mudah membuang suatu hadis hanya karena bertentangan dengan Al Qur’an, hadis, sirah Nabawiyah, akal , indra atau sejarah, tetapi penilaian bertentangan itu belum melalui penilaian yang cermat. Karena itu, dalam membahas masing-masing kriteria beserta turunannya, Al Adlabi juga menyertakan contoh prakteknya.